Kamis, 10 November 2011

Hadist ke-1 Niat Adalah Jiwanya Amal Soleh
َلﺎَﻗ ِبﺎﱠﻄَﳋا ِﻦْﺑ َﺮَﻤُﻋ ٍﺺْﻔَﺣ ﰊَ َﲔﻨِﻣﺆُﳌا ِﲑِﻣَ ْﻦَﻋ: ِﷲا َلﻮُﺳَر ُﺖْﻌِﲰ J ُلﻮُﻘَـﻳ : " َﱠﳕِ ﺎ ِتﺎﱠﻴﱢـﻨﻟﺎِﺑ ُلﺎَﻤْﻋَﻷا ﱃإ ُﻪُﺗﺮْﺠِﻬَﻓ ﻪﻟﻮُﺳَرَو ِﷲا ﱃِ ُﻪُﺗَﺮْﺠِﻫ ْﺖَﻧﺎَﻛ ْﻦَﻤَﻓ ، ىَﻮَـﻧ ﺎَﻣ ٍءىِﺮْﻣا ﱢﻞُﻜِﻟ ﺎَﱠﳕإَو ، ُﻮُﺳَرَو ِﷲا ْﺠِﻬَﻓ ، ﺎَﻬُﺤِﻜْﻨَـﻳ ٍةأﺮْﻣا وأ ، ﺎَﻬُـﺒْﻴِﺼُﻳ ﺎَﻴْـﻧُﺪِﻟ ُﻪُﺗَﺮْﺠِﻫ ْﺖَﻧﺎَﻛ ْﻦَﻣَو ، ﻪﻟ ِﻪْﻴَﻟإ َﺮَﺟﺎَﻫ ﺎَﻣ ﱃِ ُﻪُﺗَﺮ" َر َو ُﻩا ِ َﻣ َﻣﺎ ﳌا ﺎ َﺤ ﱢﺪ ِﺛ َْﲔ ُﺒﻟا َﺨ ِرﺎ ﱡي َو ُﻣ ْﺴ ِﻠ ٌﻢُ
Dari amirul mukminin Abu hafsah Umar bin al-Khatab ra berkata, saya mendengar Rasulullah Saw bersabda, “Sesungguhnya amal itu (sangat) tergantung kepada niat dan sesungguhnya bagi seseorang (pahalanya itu) tergantung dari niatnya. Barang siapa yang hijrahnya (hanya) karena Allah dan rasulNya, maka hijrahnya untuk Allah dan RasulNya. Dan barang siapa yang hijrahnya (hanya) untuk meperoleh dunia semata atau untuk wanita yang akan dinikahinya, maka ia akan mendapatkan (apa yang ditujunya).” (HR. Bukhari Muslim)

I. Biographi Rawi Amirul muminin Umar bin Khaththab al-Quraisyi ’Adawi Abu Hafsh adalah khalifah kedua, orang kepercayaan Quraisy di masa jahiliyah. Umar adalah orang yang sangat memusuhi da’wah dan kaum muslimin di awal kenabian Rasulullah Saw, kemudian ia masuk Islam. Abdullah ibnu Mas’ud berkata, “Kami tidak melakukan shalat di Ka’bah sampai Umar masuk Islam.” Umar masuk Islam setelah 40 orang laki-laki dan 11 orang wanitamasuk Islam tahun ke-6 kenabian, dan Umar sendiri mengikuti seluruh peperangan bersama Rasulullah. Umar dibai’at (disumpah) menjadi khalifah di hari wafatnya khalifah Abu Bakar Shiddiq ra tahun 13 H. Dalam masa ke-pemimpinannya, Umar merebut Kota Quds di Syam (Suriah), Madain (Irak/Persia), Mesir dan seluruh Jazirah Arab. Umar wafat setelah ditikam oleh Abu Lu`luah al-Majusi ketika shalat Subuh tahun 23 H.

II. Pelajaran yang terdapat dalam hadits 1. Amal perbuatan dibagi dalam tiga kategori, yaitu: a. Amal Qalbiyah: Yaitu (perbuatan hati) yang dilakukan, yang bersemayan dalam hati misalnya tawakkal, tawadhu (rendah hati), sabar, qanâ’ah (merasa cukup apa yang diberikan Allah), ikhlas, hayâ (malu untuk berbuat dosa), ridhâ (rela menerima ketentuan Allah), syukur, marah, iri dengki, hasad, rakus, tamak dll
b. Amal Nuthqiyyah: Yaitu perbuatan yang dilakukan oleh lisan misalnya: tilawah al-Qur’an, berkata baik, memberi nasihat, berdoa, berbohong, mengunjing dll
c. Amal Jawârih: Yaitu aktifitas yang dilakukan oleh gerak badan seperti shalat, makan, mandi dll
2. Niat itu memang sengaja harus dihadirkan dalam hati atau menguatkan sebuah keinginan atau motivasi yang sudah ada dengan yang lebih kuat lagi. Dan bukan disebut niat jika hanya terlintas di hati sesaat. Niat menurut arti kata berarti ( ُﺪْﺼَﻘﻟا) yaitu menyegaja atau bermaksud berbuat sesuatu. Sedangkan menurut istilah syara (Islam) adalah: ُﻣ ِءْﻲﱠﺸﻟا ُﺪْﺼَﻗ ِﻪِﻠْﻌَﻔِﺑ ﺎًﻧَﺮَـﺘْﻘ“Menyegaja dalam hati (menghadirkan motivasi dalam hati) ketika hendak melaksanakan pekerjaan itu kemudian dibarengi dengan perbuatan itu.” Dapat difahami dari istilah diatas bahwa niat tempatnya di hati, artinya jika seseorang mengatakan, “Saya beri uang untuk anak yatim ini sekarang,” namun dalam hatinya tidak terbesit sama sekali memberi uang, maka ucapanya itu bukan niat. Dan niatpun bukan hanya yang terlitas saja di hati, namun yang dimaksud redaksi hadist diatas adalah mendatangkan, menghadirkan niat karena Allah dan ikhlas pula karena Allah Swt semata. Misalnya terbesit dalam hati akan memberi uang seorang anak yatim, kemudian dengan sengaja ia datang ke tempat anak itu kemudian dia kuatkan hatinya sambil berbicara dalam hatinya, “Ya Allah aku berikan uang ini untuk anak ini karena Engkau semata, supaya kau membalas perbuatanku ini.” Kemudian dia tidak sama sekali membicarakan apapun tentang pemberiannya ini kepada orang lain bahkan kepada keluarganya sendiri dan hanya Allah yang tahu, dan inilah disebut niat dan ikhlas pula dalam perbuatannya.
3. Niat itu adalah dalam hati dan bukan yang diucapkan karena batinlah penentu dari buah yang akan dipetik ketika ia melakukan sebuah perbuatan. Dengan demikian seseorang mengucapkan sebuah rencana kemudian melaksanakan apa yang ia kehendaki tentulah tidak akan berbuah pahala manakala hatinya tidak bertujuan untuk Allah.
4. Semua amal kebajikan baik yang berupa lahiriyah, jiwa, maupun lisan tergantung dari yang diniatkannya dan ia akan mendapat pahala dari Allah jika memang diniatkan untuk Allah. Jika kebajikan itu diniatkan untuk selain allah, untuk kemanusiaan misalnya, maka hasilnya ia peroleh untuk kesejahteraan manusia namun tidak mendapat pahala dari Allah karena memang tidak diniatkan untuk Allah.
5. Baik atau buruknya niat seseorang akan berpengaruh baik atau rusaknya sebuah perbuatan.
6. Menghadirkan niat di hati atau memotivasi sesuatu yang akan dilakukan untuk memperoleh pahala harus terwujud dalam batin seseorang untuk membedakan antara kebiasaan (adat) dengan pekerjaan yang ditujukan kepada Allah. Misalnya rutinitas makan dan minum dalam kesehariaan tentu saja hal ini hanya menghasilkan energi, namun tidak akan berpahala. Berbeda jika makan minum itu sengaja dihadirkan di dalam hati untuk menunjang aktifitas ibadah misalnya tentu saja akan berpahala disisi Allah. Tampak jelas dua perbuatan yang sama namun ada peberdaan dilihat dari pahalanya. Sebuah syair menyebutkan: ِﻋ َﺒ َدﺎ ُ َ ْﻫ ِﻞ َﻐﻟا ْﻔ َﻠ ِﺔ َﻋ َدﺎ ٌتا ٌتاَدﺎَﺒِﻋ ِﺔَﻀْﻘَـﻴﻟا ُتاَدﺎَﻋَو # “Ibadahnya orang lalai adalah adat (kebiasaan), kebiasaan orang yang selalu ingat (untuk menghadirkan niat) adalah ibadah.
7. Semakin banyak niat akan sesuatu karena Allah, maka makin banyak pula ganjarannya disisi Allah.
8. Ketika niat diharuskan dalam setiap akktifitas apapun, disitu pula niat harus diirngi dengan ikhlas dalam bentuk apapun. Dengan demikian antara niat karena Allah dan Ikhlas karena Allah tidak dapat dipisahkan. III. Pandangan Salafus Salih4 Tentang Ikhlas
1. Sebagian orang salaf berkata, “Orang ikhlas itu akan menyembunyikan perbuatan baik seperti ia menyembunyikan perbuatan buruknya.”
2. Yusuf bin Husain berkata, “Tidak ada satupun yang lebih mulia di dunia ini dari pada ikhlas, dan sering kali aku ingin melenyapkan ria dalam hati, namun tetap saja (riya) itu tumbuh lagi meskipun dalam bentuk lainnya.”
3. Makhul berkata, “Jika seseorang mampu menumbuhkan rasa ikhlas saja selama 40 hari saja, pasti akan tumbuh hikmah dari hati dan mulutnya.”
4. Ibnu Qayyim pernah berkata, “Perbuatan baik yang tidak diiringi oleh keikhlasan maka ia tidak bermanfaat, seperti seorang pengelana yang berbekal air minum dan berjalan jauh dengan rasa letih dan penat namun tidak bermanfaat akhirnya.”
5. Ar-Rabi’i hanya terlihat shalat sunnat sekali saja di dalam masjid (ia banyak melakukan shalat sunnat di rumah karena takut ria).
6. Ketika Abdurahman ibn Laila sedang shalat, tiba-tiba datang seseorang, ia cepat-cepat tidur (agar tidak dikeatahui bahwa ia sedang shalat).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar