Kamis, 10 November 2011

Hadist ke-2


__ Apa Itu Islam, Iman dan Ihsan?
Umar ra, “Ketika kami sedang duduk dalam satu majelis bersama Rasulullah Saw, pada satu hari, tiba-tiba datang seorang pria berpakain serba putih, rambutnya hitam pekat, tidak terlihat bekas perjalan (tidak tampak kelelahan), dan tidak ada seorangpun diantara kami yang mengenalnya. Ia kemudian duduk dekat Nabi sambil mendekatkan lututnya ke lutut Nabi dan meletakan kedua tangganya diatas pahanya (pahanya sendiri). Kemudian ia bertanya, “Muhammad, coba sebutkan apa itu Islam?
Rasulullah Saw menjawab, Islam itu adalah kau bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. Engkau menegakan shalat, mengeluarkan zakat, berpuasa di bulan ramadhan, melaksanakan haji ke baitullah jika engkau mampu melakukannya. Kemudian orang itu berkata, “Engkau benar.” Kami terheran-heran karena ia bertanya dan membenarkan sesudahnya.
Orang itu kemudian bertanya lagi, coba jelaskan apa yang disebut dengan iman? Nabi menjawab, “Engkau beriman kepada Allah, kepada para malaikat-Nya, beriman kepada kitab-kitab-Nya, beriman kepada para rasu-lNya, beriman kepada hari kiamat dan beriman kepada takdir baik tang baik maupun yang buruk. Orang itu kemudian berkata, “Engkau benar.” Orang itu bertanya lagi, “Apa yang disebut dengan Ihsan?” Nabi membalas, “Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat Allah, meskipun engkau tidak (mampu) melihatnya (yakinlah) bahwa Allah melihatmu. Orang tersebut bertanya lagi, “Coba sebutkan tanda-tanda hari kiamat?” Nabi menjawab, “Yang ditanya tidak tahu dari orang yang bertanya.” Ia bertanya lagi, “Coba sebutkan tanda-tanda datangnya kiamat?” Nabi menjawab, “Jika seorang budak wanita melahirkan majikannya sendiri, jika kau melihat orang yang tidak memakai sandal, tidak memakai baju, (banyak) orang miskin, dan pengembala kambing yang saling

berlomba mendirikan bangunan tinggi (megah).” Kemudian (umar) berkata, “Setelah itu orang itu pergi: Beberapa saat kemudian Nabi berkata kepadaku, “Umar, tahukah kau siapa orang yang bertanya itu? Saya jawab, “Allah dan RasulNya lebih mengetahui, Nabi meneruskan, “Ia adalah Jibril, yang datang untuk mengajarkan Islam kepadamu.” (Hadist HR. Muslim)

I. Pelajaran yang terdapat dalam hadits
1. Menunjukan bagusnya akhlak Nabi karena beliau duduk bersama para sahabatnya dalam satu majelis atau halaqah dan tidak menyendiri.
2. Sopan santun terhadap guru, pengajar yang ditunjukan Jibril yang duduk sopan di hadapan Nabi Saw. Dalam beberapa hadist dijelaskan bahwa para sahabat bertanya dengan sopan ketika bertanya dalam satu masalah di hadapan Nabi Saw. Dengan demikian disarankan untuk mendekat dengan guru, pengajar dalam satu majelis, halaqah dll.
3. Anjuran memakai pakain bersih dan baik ketika belajar, ketika di majelis ilmu,5 ketika hendak ke masjid karena Jibril sendiri memakai pakaian bersih ketika mengajarkan ilmu.6
4. Islam asal katanya berarti kepasrahan dan menerima sepenuh hati. Sedangkan menurut istilah syara (agama) berarti menjalankan lima perintah dasar agama Islam yaitu, syahadat, shalat lima waktu, membayar zakat, mengerjakan puasa ramadhan dan berhaji bagi yang mampu. Kelima rukun ini harus pula mencukupi rukun, syarat dan etikanya.
5. Siapa yang menghadiri majelis ilmu dan ia tahu bahwa orang-orang yang hadir butuh jawaban suatu masalah dan tidak ada seorangpun yang bertanya, maka wajib baginya bertanya tentang hal tersebut meskipun dia mengetahuinya agar peserta yang hadir dapat mengambil manfaat darinya.
6. Boleh memanggil nama gurunya dengan namanya sendiri. Namun kebiasaan ini menurut kebiasaan masyarakat Arab umumnya.7 Sedangkan di daerah lainnya di luar masyarakat Arab akan lebih sopan dengan memanggil dengan nama penghormatan misalnya, ustad, kyai, pak haji dan sebagainya.
7. Menunjukan salah satu bentuk turunya wahyu yang salah satu cirinya adalah penampakan langsung yang terlihat jelas oleh panca indera. Terkadang wahyu datang tanpa terlihat pembawa beritannya.8
8. Anjuran untuk mencari ilmu baik di tempat yang terdekat maupun yang jauh jaraknya.
9. Rukun Islam ada lima dan rukun iman ada enam pokok.
10. Terjadinya hari kiamat hanya diketahui Allah Swt sedangkan Nabi Saw hanya mengetahui tanda-tandanya saja.
11. Islam ditegakan tidak saja oleh gerak aktifitas lahiriah saja namun harus dibarengi pula dengan aktifiitas batin.


II. Fikih Hadist
1. Iman menurut arti katanya berarti pengakuan, kesadaran dan mengakui keberadaan sesuatu dan menyakininya bahwa hal itu benar meskipun ia tidak merasakan atau bahkan tidak melihatnya sama sekali.10Iman mencakup pengakuan terhadap Allah Swt., para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul dan pengakuan dan percaya bahwa semua ketentuan yang terjadi dalam dunia merupakan kehendak Allah.
2. Islam dapat disebut pula dengan Iman, namun mempunyai kharateristik yang berbeda. Islam berhubungan dengan aktifitas lahiriyah, sedangkan Iman merupakan aktifitas hati atau batin. Tidak bisa disebut Islam jika tidak ada Iman dan begitu pula sebaliknya. Dengan demikian Islam dan Iman harus bersatu padu.
3. Ihsan menurut arti katanya berarti baik, bagus, berbuat baik, sedangkan menurut istilah agama berarti penghayatan akan hadirnya Allah Swt., dalam hidup melalui penghayatan terhadap diri sendiri, seakan-akan diri merasa berada di hadapan Allah Swt., Ihsan ini mempunyai dua klasifikasi:
Yang pertama, ihsan kepada Allah yang berarti semua bentuk ibadah kepada Allah harus dilandasi dengan keikhlasan, mengikuti sunnah Nabi dan adanya rasa takut karena seakan-akan melihat sendiri Allah dengan mata telanjang dan jikapun tidak dapat merasakan penglihatan kepada Allah, menyakini bahwa Allah pasti melihat apa yang diperbuat manusia diamanapaun ia berada. Jika seseorang ikhlas dalam beribadah maupun dalam kebajikan lainnya maka orang itu disebut ihsan.
Yang kedua, ihsan kepada makhluk yaitu perbuatan kebajikan kepada sesama manusia baik dengan media harta, pangkat dan lainnya.
4. Dalam redaksi hadist diatas (ُﻩاَﺮَـﺗ َﻚﱠﻧَﺄَﻛ َﷲا َﺪُﺒْﻌَـﺗ ْنأ) terdapat dua pengertian yaitu bahwa bentuk ketaatan atau ibadah harus dilandasi dengan keikhlasan sedangkan pengertian yang kedua adalah bahwa taat itu adalah sebuah harapan agar yang beribadah (manusia) bisa lebih dekat dengan yang ibadahinya (Allah Swt). Seperti

5.  Sedangkan makna redaksi (َكاَﺮَـﻳ ُﻪﱠﻧِﺈَﻓ ُﻩاَﺮَـﺗ ْﻦُﻜَﺗ ْ ْنِﺈَﻓ) berarti taat kepada Allah karena adanya rasa ketakutan yang sangat, baik ketakutan akan siksa maupun ancaman Allah.
Ada dua peringkat dalam diri seseorang, yaitu thalab (mengharap balasan Allah) dan harb. Thalab ialah peringkat dimana seseorang merasakan kehadiran Allah dan ia merasa Allah terus menerus mengawasinya dan ia tahu bahwa Allahpun tahu apa yang terbesit dalam benaknya baik berupa kebaikan atau yang buruk sekalipun. Sehingga ia benar-benar dalam melakukan kewajiban dan tidak berlaku curang maupun buruk dalam kesehariannya. Bahkan dalam kesehariaanya ia terus menerus melakukan kebaikan karena untuk mendapatkan pahala atau untuk lebih dekat kepada Allah. Sedangkan harb, adalah ibadah seseorang karena ketakutan semata akan siksa Allah jika lalai dalam melaksanakan perintahnya.12
6. Metode pengajaran yang sangat baik yang diajarkan oleh Jibril dalam bentuk tanya jawab yang ternyata terbukti ampuh. Banyak sekali pengajaran Nabi Saw yang terdapat dalam hadist dalam bentuk tanya jawab karena akan langsung dimengerti oleh pendengarnya.
7. Sangat disarankan banyak bertanya yang tidak diketahui dan bermanfaat dalam urusan agama kepada pakarnya sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah Swt:

َنْﻮُﻤَﻠْﻌَـﺗ َﻻ ْﻢُﺘْﻨُﻛ ْنإ ِﺮْﻛﱢﺬﻟا َﻞْﻫَ اﻮُﻟَﺄْﺳﺎَﻓ
“Maka bertanyalah kalian kepada orang yang tahu (ahli/pakarnya), jika kalian tidak mengetahuinya.”
8. Jangan menjawab persoalan yang tidak diketahuinya dan jangan merasa malu karena akan menunjukan ketakwaan seseorang. Hal ini dapat diketahui dari redaksi hadist bahwa Nabi Saw tidak menjawab pertanyaan yang memang tidak diketahuinya.

III. Kisah
Dikisahkan bahwa Ibrahim bin Adham satu hari pergi untuk melaksanakan haji ke Baitullah Mekkah. Dalam perjalanan lewatlah seseorang kemudian ia menyapa, “Tuan guru kamu mau kemana?” Ibrahim menjawab Ke Baitullah! Orang itu bertanya lagi sambil terheran-heran, “Kamu kok kayak orang gila aja! Kamu nggak bawa kendaraan (kuda/unta), nggak bawa bekal padahal perjalanan itu jauh loh?” Ibrahim membalas, “Saya bawa kendaraan kok!! Kamu aja nggak lihat.”
Orang itu bertanya lagi sambil bertambah keheranannya,” bawa apa?” Ibrahim menjawab,” Jika aku tertimpa kesulitan, maka aku naik kendaraan sabar, jika aku mendapat nikmat aku naik kendaraan syukur, jika aku tertimpa musibah aku naik kendaraan ridha, kalau hawa nafsuku selalu mengajak aku (pada keburukan), maka aku akan katakan pada diriku bahwa sisa umurku semakin sedikit (agar terus berbuat taat).

Orang itu kemudian menjawab, “Ya sudah pergilah dengan izin Allah, memang kamu yang bawa kendaraan sedangkan aku yang memang berjalan kaki.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar